you're reading...
Rak Buku

Kembang Goyang, Orang Betawi Menulis Kampungnya (1900-2000)

TheJakartaReview- Antara Sastra Betawi dengan sastra yang berlatar Betawi tentu tidak serta merta harus dianggap serupa. Mereka adalah entitas yang berbeda kendati sangat boleh jadi bahwa keduanya dapat saja berada dalam satu identitas. Hal ini sangat mungkin mewujud sebagai semacam dialektika. Artinya, seorang pengarang yang secara eksistensial-kultural biasa disebut sebagai orang Betawi tidak dengan sendirinya akan atau harus menulis karya sastra dengan tema Betawi atau kebetawian yang kental; barangkali saja ia malahan menghasilkan karya dengan tema kemaduraan atau kesundaan yang dominan. Sebaliknya, seseorang yang “bukan Betawi” juga sangat mungkin atau tidak mustahil mampu menghasilkan karya dengan nuansa kebetawian yang elegan lantaran ia mempunyai daya pantau atau daya ungkap yang hebat atas suatu fenomena atau realitas kultural Betawi. Dalam relasi ini, kiranya kita akan ingat dengan cepat, salah sebuah di antaranya, karya-karya Karl Friedrich May (1842-1912) yang mampu menampilkan dunia dan pengucapan Indian—dengan begitu meyakinkan—sementara ia sendiri ternyata belum pernah ke sana dan bukan bagian dari suku bangsa itu.

Contoh sebagaimana baru disebutkan, memang sudah sama kita mafhumi dan sudah cukup klasik, namun yang lebih bermakna adalah bahwa suatu ekspresi keetnisitasan yang terucap dalam suatu bentuk kesenian tidak lain merupakan suatu konstruksi budaya yang dieksplisitkan; dan itu artinya bukan suatu penggambaran yang menyeluruh. Ia mungkin menyerupai sebuah noktah semata atau paling jauh hanya suatu bagian kecil saja dari suatu budaya. Permasalahannya, dalam ekspresi seni yang bermediumkan bahasa maupun yang lainnya, hampir tidak pernah terjadi adanya suatu tindak representasi yang bersifat paripurna. Galibnya, kesenian adalah semata-mata hanya wahana untuk melakukan pelaksanaan dari “gerakan sukma”—meminjam ungkapan J.E. Tatengkeng (1907-1968)—dan bukan berasal dari kesadaran untuk sepenuhnya merepresentasi suatu panorama etnis atau kecenderungan kultural yang telah ada dan yang tengah mengada.

Oleh sebab itu, jika suatu ketika kita sampai pernah tersihir, misalnya, oleh novel Upacara (1976) karya Korrie Layun Rampan atau juga terpukau oleh Namaku Teweraut (2000) karya Ani Sekarningsih, yang kedua-duanya berlatar maupun kental dalam menggambarkan suatu budaya dari masyarakat tertentu, apa yang ditampilkan juga belum sepenuhnya dapat dikatakan lengkap. Pasti masih ada sela atau celah-budaya yang tak terikutkan sebab sebuah karya seni, dalam hal ini sastra, tentu bukan suatu hasil penelitian antropologis yang ketat dan detail. Yang tampil di hadapan kita lebih sebagai catatan etnografis yang terseleksi. Namun demikian, kemampuan menampilkan dimensi etnografis, baik karena sang penulis merupakan bagian tak terpisahkan dari etnisitas yang menjadi latar penceritaan atau bukan, seperti diperlihatkan oleh dua contoh novel yang baru disebut, sangat disemangati dan didorong oleh suatu kepiawaian imajinatif dalam diri setiap pengarang sebagaimana secara nyata pernah diisyaratkan oleh—paling tidak—tokoh Spongebob Squarepants dalam salah satu episodenya. Sudah barang tentu, Spongebob Squarepants hanyalah kepanjangan ide gila penciptanya, yaitu Stephen Hillenburg, namun bahwa imajinasi mampu mengatasi batas waktu, wilayah, dan budaya, adalah sebuah kenyataan yang dapat diterima nalar.

Latar Betawi dan Kebetawian dari Masa ke Masa

TERLEPAS dari apakah para pengarang yang karyanya dihimpun oleh Chairil Gibran Ramadhan (CGR) dalam Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya (1900-2000) – Sketsa, Puisi & Prosa ini adalah orang Betawi atau Peranakan Betawi, yang jelas pembaca akan memperoleh suatu panorama kebetawian yang dinamis, yang sekali lagi bukan merupakan representasi Betawi atau kebetawian yang lengkap, melainkan hanya pada beberapa aspeknya. Kendati begitu, meski hanya sebagian dari kebetawian dapat ditampilkan, antologi karya ini mempunyai nilai lebih pada sisi historisitasnya sebab sebagian dimensi kebetawian yang pernah ada sepanjang kira-kira satu abad, terpampang di sini. Dan agar “nilai lebih” tadi tidak berhenti sebagai label belaka, perlu segera digarisbawahi bahwa kerja menelisik, mengumpulkan, atau pun dapat berupa mengais karya-karya yang pada masanya barangkali tidak dianggap signifikan dan kemudian diterbitkan kembali ini, bukanlah kerja yang bersifat nostalgis atau romantis, melainkan suatu komitmen dan langkah intelektual yang nyata.

Seandainya ada yang berpendapat bahwa menengok kembali pencapaian yang pernah ada sebagai sekadar gamang menghadapi perkembangan zaman sekarang lalu seterusnya lebih memilih berasyik-masyuk lagi dengan khazanah lama yang tidak lagi bermakna, dapat dipastikan bahwa yang berpendapat itu telah mengalami semacam anemia budaya. Justru kerja atau komitmen semacam inilah yang saat ini sangat diperlukan mengingat bahwa selama beberapa dekade bangsa ini telah hidup pada suatu historisitas yang disetir arahnya. Bahkan dalam dunia sastra nasional sekali pun, untuk beberapa puluh tahun telah dininabobokan oleh suatu alur sejarah yang semu, yang meneruskan saja “kehendak” atau “kemauan” pihak penjajah atau pengoloni negeri ini. Masih adanya pendapat yang menyatakan bahwa Sastra Indonesia modern, misalnya, bermula dari diterbitkannya novel Azab dan Sengsara (1920) karya Merari Siregar (1896-1941) yang dengan kata lain berawal sejak terbitan pertama Balai Pustaka, setidak-tidaknya menunjukkan bahwa sebagian besar orang Indonesia abai atas identitas kebangsaan maupun harga diri. Mengapa demikian? Tentu, karena bangsa ini cenderung menafikan karya-karya R.M. Tirto Adhisoerjo (1880-1918), Semaoen (±1899-1971), G. Francis (1860-1915), F. Wiggers (?), Lie Kim Hok (1853-1912), atau, Kwee Tek Hoay (1880-1952) misalnya, sebagai bagian integral Sastra Indonesia modern.

Untunglah dan inilah sumbangsih nyata buku ini, yaitu bahwa Chairil Gibran Ramadhan tampaknya memang tidak atau belum tercemari oleh paradigma penyusunan sejarah Sastra Indonesia Modern yang selama ini telah menyesatkan anak didik, dunia pendidikan, maupun perkembangan ilmu pada umumnya dengan suatu tolok ukur yang simplistis dan kolonialistis. Ditampilkannya karya Oom Piet dan Firman Muntaco—yang selama ini hampir tidak “dianggap” sebagai bagian integral Sastra Indonesia Modern—adalah suatu tindakan atau keberanian yang menyimpang dari arus utama penyusunan sejarah sastra di sini, yang untuk itu karenanya perlu diberi apresiasi.

Tentu saja, dalam upaya mengapresiasi atau memahami karya dari beberapa pengarang yang baru dikemukakan itu, ancangannya juga harus yang sepadan. Jika pendekatan formal-teoretis kesastraan yang dipakai untuk “membedah” karya para pengarang tadi, jelas merupakan suatu kuasi-apresiasi sebab antara pisau yang dipakai dengan objek yang akan dibedah jadinya hanya serupa suatu musibah belaka. Akan tetapi, apabila karya para pengarang tadi, ditambah karya dari M. Balfas, S.M. Ardan, Aba Mardjani, atau juga Chairil Gibran Ramadhan—untuk menyebut beberapa dari generasi kini—dibaca dan ditelisik dengan kesadaran yang sosiologis-historis misalnya, niscaya akan diperoleh suatu khazanah yang diam-diam mampu merekat dan melekatkan mozaik yang terpisah-pisah menjadi sebuah Indonesia atau Betawi yang lebih ramah dan jelas dalam memberi arah. Hal ini sangat mungkin untuk diperoleh dan alami sifatnya, mengingat bahwa sebagian besar karya, menurut hemat saya, memang tidak berpretensi merekam jejak sejarah namun justru karena itu karya-karya tersebut malahan telah bertindak sebagai pendokumentasi zaman yang lebih manusiawi dan apa adanya.

Dari karya Oom Piet, sebagai contoh, yang dimuat dalam rubrik “Omong-Omong Hari Senen” di koran Taman Sari, terbitan 9 Mei 1904, dapat diperoleh informasi dan gambaran mengenai centang-perenangnya dunia peradilan di masa Hindia Belanda, yang sayangnya, situasi serupa hingga kini pun masih berlanjut dan malahan lebih membuat orang merasa kecut. Apa yang dikemukakan oleh Oom Piet—yang mungkinkah adalah samaran dari Soe Li Piet, ayah dari Soe Hok Gie dan Arif Budiman?—lewat “omong-omong”nya, secara tidak langsung tergambar situasi zaman yang terkadang mirip dengan situasi kini. Dalam soal “damai” dengan aparat misalnya, ternyata sejak dulu sudah ada dan mungkin melembaga.

Banjak orang soeka dame sadja, kaloe begitoe lantas jang di sita di minta dateng dengan soerat memake nama president. Asal dateng lantas di palee orang itoe aken berdame sadja, kaloe jang di sita tidak maoe dame, wah, giranglah griffier, dia kena motong lebi tebal, dia poen lantas bantoe djoega membri fikiran pada jang di sita. Ini orang poen kena dia makan. Siapa jang paling kentjang kantongnja dialah jang di atas dia tentoe menang.

Demikian pun dengan praktik dari mafia tanah, ternyata bukan hal yang baru. Modusnya saja yang barangkali agak berbeda.

Na, orang begini keliwat membahajain pengadilan, apa lagi di tempat tempat jang ada banjak tanah partikoelir, dia gosok gosok orang ketjil melawan toean tanah, wah roesaklah tanah itoe. Orang ketjil djadi semangkin rongsok.

Namun sastra memang bukan melulu berisi hal-hal yang menggetirkan itu. Yang berisi sketsa jenaka, utamanya dalam khazanah Sastra Betawi, lumayan banyak. Salahsatu nama sastrawan Betawi yang layak selalu disebut dalam kaitan dengan kisah-kisah humoris-kontemplatif adalah Firman Muntaco. Dalam sketsanya yang berjudul “Rem Blong”, pembaca diajak untuk mengulum senyum lantaran adanya kejutan-jenaka di akhir cerita yang ketika kisah itu dibaca tidak serta merta mengisyaratkan adanya kejutan itu. Juga Aba Mardjani, dengan cerpennya yang berjudul “Kue Gemblong Mak Saniah” menyisipkan kejenakaan-realistis yang kendati bersemangat kesalahpahaman, tetap merupakan suatu aorta kehidupan yang menawan.

Demikian pula cerpen atau sajak lain yang terhimpun dalam bunga rampai ini, tak pelak telah mampu menampilkan tanggapan atas kebetawian—juga sesekali kejakartaan—dari sudut pandang sastrawan. Mengingat bahwa sastrawan menulis atas dasar desakan akan suatu impuls atau rangsang kreatif maka masing-masing cerpen dari pengarang yang berbeda-beda itu niscaya menampilkan kebetawian atau latar Betawi yang berbeda-beda pula. Inilah sisi dokumentatif dari sastra yang sangat bisa jadi lebih mendekati sebagai semacam potret yang reflektif daripada tanggapan yang evaluatif.

Menggoyang Ingatan, Mengembangkan Pemahaman

HAKIKAT pengetahuan, kata banyak orang bijak-cendekia, tidak lain adalah perpaduan antara penghargaan atas ingatan dengan mimpi-mimpi yang mampu mengantisipasi masa depan. Namun ada kalanya memang orang tidak terlalu menganggap penting makna dan peran masa lalu karena mungkin orientasinya adalah melulu pada masa depan itu. Kenyataan seperti ini tentu saja tidak mungkin dimungkiri. Akan tetapi, dari menengarai dinamika keseharian dalam tautannya dengan ihwal keberadaan diri, sisi romantis dalam kehidupan ternyata selalu bersebelahan dengan dinamika keintelektualan.

Apalagi dengan adanya sejumlah program atau fasilitas yang disediakan dalam dunia komunikasi maya dewasa ini, jelas terungkap bahwa ingatan akan sejarah atau silsilah diri, kini cukup mengambil peran pada kehidupan sehari-hari. Banyaknya tampilan yang mengulik-ulik kesahajaan masa yang telah lewat yang kemudian dipampang sebagai semacam identitas, paling kurang menandai adanya peran narsistis yang berbiak dari apa yang telah lewat itu. Kemudian jika hal ini dianalogikan dengan peran karya-karya di masa lalu yang dicoba untuk ditampilkan lagi, pada dasarnya laku semacam ini adalah laku yang tetap bersisian dengan kehendak untuk mendefinisikan diri sebagai suatu entitas maupun identitas.

Bertalian dengan penjelasan ringkas ini, maka apa yang telah dilakukan oleh Chairil Gibran Ramadhan dengan mengumpulkan sejumlah karya lama—dengan pembatasan pada latar dan aspek kebetawian—yang kemudian disandingkan dengan karya-karya yang terbit kemudian, pada hemat saya, merupakan suatu wadah dan sarana untuk memunculkan suatu dialog intelektualistis di antara karya-karya itu. Harapannya jelas, dari “dialog” yang sangat mungkin terjadi itu, pemahaman yang lebih baik akan kebetawian dan juga sangat mungkin keindonesiaan itu bakal terwujud, sehingga dalam realitas akan lahir pula suatu tenggang-rasa intelektual yang didasari atas suatu pemahaman yang bersifat tekstual; bukan hanya berdasar “konon” atau sekadar asal berbual.

ENDORSEMENT:
Ahmadun Yosi Herfanda (Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta & Ketua Komunitas Cerpen Indonesia):
Di tengah kesunyian, sastra yang diusung para penulis berdarah Betawi atau peranakan Betawi diam-diam menyeruak di dalam kancah nasional diiringi kesahajaan aroma tanah kelahiran mereka. Nama-nama dari masa lampau seperti Sapirin bin Usman al-Fadli, Muhammad Bakir, Ahmad Beramka, Abdullah bin Muhammad al-Misri, Ahmad Insab, Ahmed Mujarrab, kemudian Oom Piet, Tio Ie Soei, Kwee Kek Beng, Muhammad Balfas, SM. Ardan, Firman Muntaco, N. Susy Aminah Aziz, hingga generasi terkini seperti Aba Mardjani, Zeffry Alkatiri, dan Chairil Gibran Ramadhan, harus dicatat dalam sejarah sastra Indonesia khususnya kesusastraan Betawi. Dan buku ini adalah bagian dari sejarah itu.
Cecep Syamsul Hari (Penyair & Redaktur Majalah Sastra Horison):
Membaca buku Kembang Goyang, bagi saya adalah suatu tamasya sejarah yang menyenangkan ke dalam salahsatu khasanah dan kearifan lokal yang kaya dan penuh warna, tetapi sejauh ini bagi saya pribadi hampir merupakan terra-incognita. Saya belajar banyak tentang Sastra Betawi dari buku ini.
David Kwa (Penulis & Pemerhati Budaya Tionghoa Peranakan):
Tulisan bernilai sastra dalam bahasa Melayu telah ditulis Peranakan Tionghoa sejak 1870-an hingga 1960-an, ketika sebagian besar masyarakat di Hindia Belanda belum berbahasa Melayu. Claudine Salmon mencatat ada 3005 judul karya fiksi dan non-fiksi. Dengan demikian tidak sedikit dari mereka yang dahulu aktif—sebelum Orde Baru—sebagai wartawan dan sastrawan. Diantaranya yang menonjol adalah Kwee Tek Hoay, Kwee Kek Beng, Tio Ie Soei, dan Nio Joe Lan. Pemakaian bahasa Melayu Betawi oleh Peranakan Tionghoa sedikit banyak turut memberi kontribusi dalam penyebarannya ke kalangan masyarakat yang lebih luas, karena pers dengan bahasa Melayu Betawi juga diminati.
Jamal D. Rahman (Penyair & Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison):
Buku ini membuktikan bahwa kebudayaan Betawi merupakan mata air inspirasi yang melimpah bagi sastra, membuktikan juga bahwa kebudayaan Betawi telah memperkaya berbagai aspek sastra Indonesia dalam rentang sejarah yang cukup panjang. Itu saja sudah cukup menegaskan bahwa buku ini sangat berharga.
Dr. Sam Mukhtar Chaniago (Dosen & Wakil Ketua Pusake Betawi UNJ):
Saya sangat bangga dan bahagia membaca berbagai tulisan di dalam buku ini. Bahagia karena dalam perjalanan waktu ternyata bahasa Indonesia yang kita cintai telah memiliki bentuk awalnya jauh sebelum dicetuskan tahun 1928. Sebagai bagian dari pendokumentasian sejarah bahasa, Kembang Goyang dapat dijadikan objek kajian yang cukup representatif. Saya juga sangat bangga karena ada anak muda Betawi yang peduli terhadap karya sastra budayanya untuk tersosialiasi lebih luas di dalam kancah sastra nasional. Buku ini merupakan bukti kongkret bahwa sastra Betawi itu ada.
Prof. Dr. Wahyu Wibowo (Dosen & Pendiri Pusat Studi Betawi Univ. Nasional):
Karya-karya dalam Kembang Goyang mencuatkan gambaran historis perihal gejala multikulturalisme masyarakat Betawi. Suatu hal yang wajar terjadi, tetapi justru di situlah kemampuan keberadaan kita dituntut dalam memahami nilai-nilai luhur Betawi sebagai penopang jati diri bangsa. Kembang Goyang adalah buku yang kudu dibaca oleh kalangan Betawi dan non-Betawi, karena merupakan buku nasional. Bukan buku lokal.

UNTUK PEMESANAN:
Add facebook Penerbit Padasan dan tulis via inbox alamat pengiriman (lengkap dengan kode pos).
Harga buku Rp. 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah), plus ongkos kirim untuk wilayah Jakarta Rp. 15.000,- (lima belas ribu rupiah). Transfer melalui BNI Cabang Harmoni. No. Rekening 00180-92845 (nol-nol-satu-delapan-nol—sembilan-dua-delapan-empat-lima) atas nama Yandra.

Kembang Goyang – Orang Betawi Menulis Kampungnya (1900-2000) – Sketsa, Puisi & Prosa (Penerbit Padasan, Oktober 2011, xxiv + 320 hlm; 15 x 23 cm, ISBN: 978-602-19280-0-4). Editor: Laora Arkeman, Kata Pengantar: Ibnu Wahyudi, Catatan Penutup: Yahya Andi Saputra. Lukisan sampul: Wajah-Wajah Penari Betawi karya Sarnadi Adam (105x85cm, cat minyak pada kanvas, 2005). Fotografer sampul: Heryus Saputro.

Para penulis: Oom Piet, Tio Ie Soei, Kwee Kek Beng, M. Balfas, S.M. Ardan, Firman Muntaco, N. Susy Aminah Aziz, Zeffry Alkatiri, Aba Mardjani, dan Chairil Gibran Ramadhan.

Catatan:
Tulisan ini diambil dari “Menggoyang Ingatan, Mengembangkan Pemahaman: Tentang Perjalanan Sastra (Berlatar) Betawi”, yang ditulis Ibnu Wahyudi sebagai Kata Pengantar untuk buku Kembang Goyang. Beliau adalah pemerhati sastra dan salah seorang pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UI, Depok.

Sumber The Global Review

About thejakartareview

Media informasi seputar jakarta, kini dan masa lalu

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: