you're reading...
Rak Buku

Sebelas Colen Di Malam Lebaran

Pengarang: Chairil Gibran Ramadhan

Sastra di tangan CGR bukan saja sebagai belles letters (tulisan indah), lebih jauh lagi sebuah karya yang dapat mengantarkan kepada sejarah sosial Betawi-Jakarta di suatu periode dalam keanekaan budaya dan masyarakatnya. (JJ Rizal, Peneliti Sejarah & Sastra)

Buku terbitan Masup Jakarta ini berisi 17 cerpen bernuansa Betawi dari kurun waktu cerita tahun 1800-an hingga 2000-an. Tema yang ditampilkan beragam, dari kisah jawara, penggusuran, kejatuhan Lenong Betawi, “pelurusan” atas mitos Maryam si Manis Jembatan Ancol, termasuk memudarnya tradisi-tradisi di tengah masyarakat Betawi. Judul diambil dari cerpen “Sebelas Colen” dan “Malam Lebaran”.

Tidak seperti cerita bernuasa Betawi lain yang identik dengan humor dan silat, antologi karya anak Betawi Pondok Pinang ini begitu serius, dengan tema-tema yang selama ini tidak disentuh penulis Betawi lain, dengan ruh dan atmosfir Betawi dalam latar kejelasan antropologis, sosiologis, dan psikologis yang kuat. Karyanya selain bergaya realis, juga surealis, dan menyentuh wilayah mitos, folklore, sejarah, budaya, bahkan politik. CGR melengkapi karyanya dengan 157 catatan kaki sebagai penjelas dalam hal perbedaan sub-dialek Betawi Tengah dengan Betawi Pinggir, perbedaan Lenong dengan Topeng, sejarah, seni-budaya, agama, hingga resep makanan.

Patut disyukuri kehadiran CGR dalam kancah sastra nasional sebagai Sastrawan Betawi setelah berakhirnya era Firman Muntaco dan SM Ardan. Ia membawa gaya baru yang tidak berkiblat pada gaya keduanya, dan berbeda pula dengan para sastrawan Betawi lain di tahun 2000-an, seperti Ridwan Saidi, Zeffry J. Alkatiri, dan Zen Hae. Dan meminjam istilah orang Betawi, karyanya mateng pu’un alias bukan karbitan. Ia menggunakan bahasa Betawi hanya pada dialog, sedangkan bagian naratif dalam bahasa Indonesia baku. Sedangkan alasan tidak berhumor-humor lantaran ia ingin merekam sesuatu yang berbeda dari Betawi, yang baginya sudah cukup menjadi bahan tertawaan di televisi, film, dan buku-buku populer.

Diakui CGR, ia menulis sastra bernuansa Betawi lantaran tidak menemukan cerpen yang membawa setting Betawi di media nasional. Baginya ini sangat mengenaskan, karena ibukota ada di kampungnya orang Betawi. Langkah yang diambilnya dan jejak yang telah ditinggalkannya sebagai Sastrawan Betawi, oleh Ahmadun Y. Herfanda (Redaktur Sastra Republika, kini Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta), pernah membuat CGR diduduksejajarkan dengan para sastrawan senior seperti Danarto, Korrie Layun Rampan, Kuntowijoyo, Taufik Ikram Jamil, dan Oka Rusmini, sebagai penulis yang membuat karya-karya bernuansa lokal dengan nilai-nilai budaya etniknya dalam hal ini Betawi—sebelumnya ditasbihkan dalam buku “Leksikon Sastra Jakarta” (terbitan Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya).

Selamat masuk ke kampung-kampung Betawi tanpa tawa.

Catatan:
Bila berminat atas buku ini silakan hubungi Sdri. Nana Kurnia di Masup Jakarta, Jl. Pala No. 4B, Beji Timur, Depok 16422, telp. 021-7720-6987.

Sumber: The Global Review

About thejakartareview

Media informasi seputar jakarta, kini dan masa lalu

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: