you're reading...
Berita

Pemilukada Jakarta: Milih Spanduk apa Program?

Oleh Dwitri Walyo

TheJakartaReview- Menjelang tanggal 11 Juli ini, kota Jakarta semakin hiruk-pikuk. Hari itu, Jakarta yang berpenghuni 8,5 juta jiwa ini akan memilih pemimpinnya. Nah, menjelang hari penentuan itulah, ‘keramaian’ Jakarta kian terasa intensitasnya. Bukan saja, pertemuan kandidat yang kali ini mencapai rekor (6 pasangan kandidat) yang kian sering, tapi juga ‘perang spanduk’.

Keriuhan pesta itu bisa dilihat di sepanjang jalan utama, maupun sudut-sudut kampung berpehuni padat. Di sana bertebaran spanduk-spanduk enam peserta Pemilukada DKI. Aneka foto ‘sok ganteng’ mejeng bareng foto seronok milik Jupe yang lagi pegang handphone. Atau wajah si ganteng Doni Damara.

“Saya terganggu dengan spanduk-spanduk itu,” istri saya pun menggerutu tiap kali lewat kelokan jalan Jakarta..Saya pun, dalam hati membenarkan. Bahwa, di sisi kiri dan kanan jalanan di Jakarta, memang dipenuhi aneka warna bendera. Kalau tidak bendera/spanduk produk, ya bendera partai yang silih berganti. Sungguh, tidak ada eloknya sama sekali. Tidak ada estetika. Lantaran spanduk-spanduk itu dipasang asal tempel, di tiang listrik, di tembok pagar/rumah, bahkan yang parah ditempel di pepohonan peghijauan kota.

Apaboleh buat, gerutuan istri itu, saya tanggapi dengan senyum. Dalam hati, saya pun setuju, jelas lebih enak lihat tampang Jupe. Atau setidaknya tampang si ‘Pangeran’ Fernando Torres atau Cesc Fabregas-lah. Selain enak dipandang, wajah mereka jauh lebih seger.

Yang juga menyesakkan dada, manakala menyimak tulisan dalam spanduk itu. Para bapak-bapak yang semuanya merasa layak (rumongso biso) mimpin kota Jakarta itu, semua umbar janji. “Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, membereskan dan mensejahterakan kota Jakarta”.

Mantap bukan, janji mereka. Apa mereka tidak takut ya, bahwa janji adalah hutang yang harus dibayar. Dan, kata ustadz di Nurul Kautsar, mushalla kecil di kampung saya di Bekasi, semua janji akan dihisab nanti di hadapan sang pencipta.

Dalam hati saya pun sungguh ragu, bahwa mereka mampu memenuhi semua janji itu. Bukankan sudah terbukti, siapapun politisi di negeri ini, tidak ada yang bisa memenuhi janjinya. Bakan Partai Demokrat yang berjanji “Katakan Tidak Korupsi”, sekarang politisi masuk bui karena korupsi.

Nah, soal janji para kandidat para Gubernur DK; “Apa iya, Jakarta yang baru saja merayakan ulang tahun ke-485 ini, dengan segala karut -marutnya yang telanjur seperti benang kusut, bisa dibereskan dalam waktu dua, tiga atau empat tahun saja? La, para gubernur Jakarta yang silih berganti memimpin dalam masa ratusan tahun saja, tidak mampu kok menciptakan Jakarta yang indah, bebas macet, bebas banjir, dan sejahtera bagi semua warganya?”

Pemilu Tanpa Spanduk, Mungkinkah?

Spanduk/baliho yang bertebaran di sekujur tubuh kota, sudah pasti bukan monopoli kota Jakarta. Itu terjadi dimana-mana. Di Bekasi, Jawa Barat, yang akan memilih walikota Desember nanti, juga penuh spanduk yang menampakkan wajah-wajah ‘ganteng’ dan ‘ayu’ para bakal kandidat.

D Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara, yang sempat saya kunjungi di awal bulan lalu, situasinya tidak kalah ramai. Terlebih, karena di sana, tengah persiapan Pemilukada Walikota Kendari dan Pemilukada Propinsi. Spanduk dan baliho pun bertebaran dimana-mana.

Apaboleh buat, spanduk/baliho yang berisi wajah para politisi adalah hal lumrah sejak reformasi bergulir. Inilah bagian dari pesta demokrasi itu. Lewat spanduk itu, para kandidat mejeng dan umbar janji. Bebas.

Tentu tidak ada yang salah dengan semua itu. Masalahnya, ya itu tadi, pemasangan spanduk dan baliho yang sama sekali tidak mengindahkan tata ruang dan lingkungan hijau. Selain itu, tentu perlu jadi bahan kajian, apakah spanduk-spanduk itu menjadi indikator pemilih mencoblos atau tidak. Dalam Pemilukada; apakah memilih spanduk atau program kandidat.

Sejalan dengan itu, adalah menarik jika ke depan, kampanye kandidat bisa dilakukan lebih rapi. Katakanlah, green campaign, kampanye hijau. Dalam kampanye, kandidat memiliki tenggang rasa pada estetika kota dan lingkungan.

Yang kedua, kalaupun terpaksa memasang spanduk; isinya tidak klise dan standar. Misal janji; bertekad membangun kota, atau memsejahterakan rakyat, atau katakan tidak pada korupsi. Bukankah itu semua, adalah memang tugas pemimpin. Mau dikatakan atau ditulis, mensejahterakan warganya adalah tugas yang harus mereka laksanakan.

Menarik kemudian adalah isi salah satu brosur yang disampaikan politisi PAN di Bekasi, Maskur Ahmad. Selagi para kandidat atau bakal calon walikota Bekasi, sekedar bicara ‘anti korupsi’, Maskur menyodorkan gagasan konkrit; “Bersedia dihukum mati, apabila diberi amanah memimpin Kota Bekasi, dan melakukan tindak pidana KORUPSI”.

Kepada penulis, Maskur menyatakan tidak akan memberikan uang kepada pemilih. “Kalau rakyat memilih pemimpin karena adanya pemberian uang. Itu artinya, rakyat juga merestui si pemimpin untuk korup,” katanya.

Dan tentang model kampanye spanduk? Maskur setuju kampanye hijau, kampanye yang tidak merusak keindahan tata kota dan lingkungan.Karenanya, pemasangan spanduk sesedikit mungkin dan isi spanduk musti program konkrit. “Pemilukada adalah memilih pemimpin yang amanah, bukan memilih spanduk,” katanya.

Sumber: http://www.gatra.com/home/pojok-dete/81-pojok-dete/14981-pemilukada-jakarta-milih-spanduk-apa-program

About thejakartareview

Media informasi seputar jakarta, kini dan masa lalu

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: